NEWS

0

Categories

  • Page Views 211

Muhammad Irzal Pebisnis yang Peduli Dunia Pendidikan

HM. Irzal Fadholi, S.Th.I, M.Pd, M.Pd.I saat ini aktif sebagai Ketua Divisi Ekonomi Ummat di KOMAS

Gontornews — Gagal dalam berbisnis sudah terbiasa, namun ada saatnya kegagalan itu menjadi sebuah keberhasilan setelah melalui perjuangan. Begitu juga yang dijalani pemilik nama Muhammad Irzal ini. Jatuh bangun berbisnis memberikan motivasi untuk bisa tegar eksis dalam keberhasilan.

Sejak tahun 2005, Muhammad Irzal ini sudah aktif berjualan batik, tak heran karena daerah Pekalongan sudah dikenal sejak lama sebagai daerah yang memproduksi batik. Bahkan Pekalongan sudah menjadi Kota Batik. Namun demikian, tak semua bisa berhasil di bisnis batik ini, justru bidang lain yang ternyata mendatangkan rejeki.

Setelah dua tahun menjalani usaha batik dan gagal, lelaki kelahiran Pekalongan, 31 Agustus 1977 ini hijrah mencoba peruntungan di bisnis usaha grosir sembako serta ikut model bisnis multi level marketing (MLM) bahkan jualan handphone merk Hwamei besutan produk China. Seperti usaha batik, dua tahun berjalan bisnis grosir dan jualan handphone gagal.

Tak kenal menyerah, Irzal mencoba melihat cerug lainnya seperti membuka konveksi. Saat itu, mendapatkan order pembuatan seragam baju dengan omzet per minggu 5.000 potong baju. “Alhamdulillah bisa berjalan sampai awal Maret 2010,” kenang suami dari Istikomah ini.

Usaha sembako yang ia rintis juga mengalami kemandekan dan akhirnya ia ubah menjadi bisnis Warung Internet (warnet) dengan brand La Tansa Net. Saat itu, ia mendapatkan permodalan dari Baitul Mal wa Tamwil Muhammadiyah (BTM) sebesar 30 juta.

“Modal tersebut saya gunakan ditambah dengan modal hasil penjualan toko grosir sembako setahun kemudian yang tadinya 10 unit PC menjadi 20 unit PC. Dan untuk mengembangkan bisnis konveksi dengan jualan batik ke luar daerah,” ujarnya lulusan ISID Gontor ini.

Sembari mengembangkan warnet, Irzal juga mencari peluang bisnis lainnya. Ia melihat ada peluang bisnis dari produk kain kasa. Tepatnya Juli 2010, ia pun mencoba bisnis kasa dengan pertimbangan bahwa kasa adalah alat medis yang habis dipakai lalu dibuang.

Bermula dari modal 5 juta mengawali bisnis kasa tersebut sampai sekarang. “Alhamdulillah dalam perkembangannya kami juga bisa produksi kapas kesehatan dan masker 3 play,” kata Ketua Forbis Wilayah Pekalongan ini.

Irzal memilih berbisnis kasa, kapas dan masker sebagai bisnis utama disamping masih menjalankan bisnis lain karena kompetitornya masih sedikit, selain itu masyarakat Pekalongan 60 persen adalah membuat batik yang masih kurang memperhatikan kesehatan. “Saya melihat bisnis ini produktifitasnya cukup tinggi, sebab barang habis pakai artinya setiap di pakai pasti dibuang,” tuturnya.

Awal merintis kain kasa ini produksi bahannya semi jadi dan produksi bahan menjadi siap jual. Namun karena permintaan pasar yang terus meningkat dengan permodalan dari pihak ketiga, akhirnya Irzal memproduksi sendiri dari benang sampai barang siap jual. “Pasar kain kasa, kapas dan masker merk Darma Husada sudah merambah dari Aceh sampai Papua,” tegasnya.

Irzal merasakan ada kendala terhadap kebijakan pemerintah yang kurang membantu produktifitas pelaku usaha. Namun demikian, ia tetap optimis dan terus mengawali produktifitas dengan sekuat tenaga dan fikiran guna berjalnnya roda produksi.

Untuk tetap berjalannya roda bisnis ini, ia akan terus menguatkan sistem perusahaan yang sehat baik dari produksi, manjemen keuangan dan marketing. “Membuat sistem dalam mengelola perusahaan sebagaimana pesan Pimpinan Pondok KH. Abdullah Syukri Zarkasyi ‘Pendidikan ini maju karena punya sistem, maka buatlah sistem untuk memajukan pendidikan’. Begitu juga dalam bisnis ini,” katanya.

Agar usahanya mendapatkan legalitas, akhirnya Irzal membuat CV. Usaha Berkah Mandiri (USM) pada 2010. Seiring waktu bisnisnya berjalan, ia pun mengubah badan hukum CV menjati PT USM Berkah Indonesia.

“Alhamdulillah dengan jerih payah dan landasan mencari rizki karena Allah semata, perusahaan tersebut berkembang pesat tanpa saya duga,” terangnya.

Dari pertumbuhan yang baik, perusahaan ini akhirnya bisa membangun tempat untuk memproduksi sendiri di atas lahan 500 meter hibahan dari orang tua. Seiring berjalan waktu, omzet USM sudah mencapai ratusan juta rupiah per bulannya.

Pada tahun 2014, Irzal mengganti nama usahanya menjadi PT. Usaha Sukses Mandiri. Nilai filosofinya adalah perusahaan ini dengan niatan ingin memberkahi Indonesia sebagai produk anak bangsa Indonesia.

Pada tahun 2015 ia mengembangkan fasilitas sarana tempat produksi dan perusahaan dengan membangun gedung untuk kantor dan gudang barang jadi dan bahan baku serta bahan produksi. “Ahamdulillah perusahaan senantiasa meningkat omzetnya menjadi 750 juta per bulan,” jelasnya.

Ke depan, ia juga terus menyiapkan sumber daya manusia yang unggul, menyiapkan lahan yang luas untuk mewujudkan pengembangan perusahaan dan membuat produk baru yang berdaya saing tinggi.

Brand merk Darma Husada ia sematkan dalam produknya karena ia mantan Ketua Club sepak bola di Gontor yang bernama Dharma Jaya tahun 1994/1995. Saat itu pernah menjadi juara di Gontor Cup. “Saya salah satu ketua club sepak bola yang gagal naik kelas VI karena firqoh Darma Jaya,” kenangnya.

Dari nama tersebut selain mengingatkan clob bolanya, juga memiliki filosofi agar selalu bersedekah dalam kesehatan. Darma bermakna sedekah dan Husada bermakna kesehatan.

Jiwa Pendidik dalam Seorang Pebisnis

Selain menggeluti bisnis, Irzal juga memiliki jiwa pendidik. Tak heran jika lulusan Gontor ini tetap berkiprah dalam dunia pendidikan karena itu yang menjadi doktrin selama di Pondok Gontor, bahwa menjadi pendidik itu sangat mulia.

Saat ini, ia mendapatkan amanah menjadi Ketua Dikdasmen cabang Pekajangan yang membawahi 12 satuan pendidikan di bawah naungan Muhammadiyah. Tugasnya sebagai majelis adalah mengelola, membina dan mewujudkan sekolah dan pesantren Muhammadiyah Pekajangan menjadi lebih unggul.

Pembagian waktu antara bisnis dan berjuang di dunia pendidikan terinspirasi dari nilai-nilai dan ajaran Pondok Gontor. Seperti ‘Di setiap tempat ada kata-katanya yang tepat dan di setiap kata-kata ada tempatnya yang tepat.’ Tak hanya itu slogan seperti ‘Sistem adalah jiwa institusi”. “Jadi saya ciptakan sistem supaya pekerjaan dan pendidikan tetap berjalan sesuai dengan visi dan misinya,” tuturnya.

Irzal merasa darahnya adalah seorang pendidik. Ia merasakan kesenangan saat bisa berbagi ilmu dalam pendidikan. Hal ini tak lepas dari didikan selama di Gontor. Karena KMI membentuk para santri untuk menjadi guru baik untuk diri sendiri, keluarga dan masyarakat. “Jadi ada tugas dalam diri untuk bisa mengamalkan ilmu yang kita miliki,” tegasnya.

Pendidikan menjadi nafas hidup Irzal, hal ini sesuai dengan wejangan yang kerap disampaikan di saat Khutbatul Arsy yaitu ‘Apa yang kami lihat, apa yang kami dengar dan apa yang kamu rasakan adalah pendidikan’.

Irzal mengawali sebagai santri Pondok Gontor pada tahun 1993. Meski baru pertama kali mondok, ia dengan mudah beradaptasi dengan lingkungan barunya. Ia selalu sadar bahwa tujuan dirinya mondok adalah mencari keberkahan ilmu. Karena itu ia harus belajar dengan baik.

Penyuka pelajaran Imla dan Nahwu ini melanjutkan mengabdi selama tiga tahun di Pondok Modern Arrisalah Ponorogo dan MTs. Diponegoro Gundik tiga tahun. Setelah mengabdi ia pun mengabdi pulang sembari memperistri wanita bernama Istikomah dari Ponorogo tahun 2004. Kini dari buah cintanya dikaruniai empat anak.

Selama di Gontor, Irzal benar-benar merasa dibentuk jadi ‘orang’ walaupun harus dididik dengan keras dan disiplin, tetapi tanpa itu semua ia merasa tidak bisa terlatih displin, karena nilai tertinggi dalam hidup adalah kedisiplinan.

Selain itu, ia diajarkan untuk memiliki jiwa ikhlas yang segala sesuatu di Gontor dikerjakan tanpa dibayar dan harus menghasilkan yang terbaik. Artinya dalam bekerja harus punya tanggung jawab terhadap pekerjaan yang diberikannya.

“Saya merasa dengan banyaknya aktifitas di Gontor memunculkan banyak kreasi dan inspirasi,” ujarnya. [fathurroji]

Data Diri dan Karir

Nama : Muhammad Irzal

TTL : Pekalongan, 31 Agustus 1977

Alamat : Pekajangan Gang. 24 No. 7 Pekalongan

Nama Istri : Istikomah

Anak :

Zahrotul Fauziyatil Mukarromah kelas 1C GP 1 Mantingan
Muhammad Hafidzullah Al Bahjani kelas IV SDM 01 Pekajangan
Abdullah Naseem An Najahi kelas I SDM Pekajangan
Muhammad Syahrullah Al Haramain

Pendidikan :

– SDM 01 Bligo Pekalongan

– MTs PPMI Assalam Solo

– MA PPMI Assalam Solo

– KMI PM Gontor Ponorogo

– S1 ISID Gontor

– S2 UIN Sunan Kalijaga Jogja

– S3 UIN Sunan Kalijaga Jogja

 

Organisasi :

– Ketua Divisi Ekonomi Ummat KOMAS

– Ketua IKPM Gontor Cab. Pekalongan 2010-2015

– Ketua LazizMu PCM pekajangan 2010-2015

– Ketua Dewan Pendidikan kab. Pekalongan 2010-2015

– Ketua Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah Cab Pekajangan 2015- sekarang

– Ketua Dewan Pesantren IMBS pekajangan 2015- sekarang

– Ketua Forbis Wilayah Pekalongan 2018- sekarang

– Ketua Humas Pengurus Komas Pusat

– Anggota Jaringan Saudagar Muhammadiyah Indonesia – skrg

– anggota Ikatan Saudagar Muslim Indonesia – skrg

– Anggota Lembaga Pengembangan Pesantren Wilayah Jawa Tengah

– Anggota Tim Penyusun Pesantren Muhammadiyah PP Muhammadiyah

– Penasehat Ponpes Darus Sa’adah Bogor

 

Perusahaan :

– Direktur dan Komisaris PT. USM Berkah Indonesia

Artikel ini dikutip dari https://gontornews.com/muhammad-irzal-pebisnis-yang-peduli-dunia-pendidikan/

Share This Article

Potensi Santri dalam Menggerakkan Ekonomi Ummat

Next Story »

Perkuat Program Ekonomi Keumatan, Komas konsolidasi di Museum Jenang Mubarok Kudus

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *