NEWS

0

Categories

  • Page Views 114

Bukan Setan Bisu

Oleh: Prof. Dr. Muhammad Chirzin
Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Catatan ini berawal dari chat sahabat Ustadz Dr. H. Sunandar Ibnu Nur, M.Ag. dengan Prof. Dr. H. Komaruddin Hidayat, Mantan Rektor UIN Jakarta dua periode. Dr. Sunandar menduga bahwa Prof. Komaruddin termasuk dalam kelompok Guru Besar “Setan Bisu” dalam menyikapi kondisi negeri. Tapi ternyata sebaliknya.

Dr. Sunandar mengemukakan negara rezim zaman now dalam sorotan dan analisa Mardigu merupakan langkah solutif dan cerdas. Wajib disimak oleh Masyarakat Akal Sehat.

Prof. Dr. Komaruddin Hidayat menanggapinya demikian. “Terima kasih. Saya jarang buka-buka Youtube model beginian. Kita bisa bicara apa saja tentang negeri kita. Mengganggu ketenangan hati, sementara saya tak mampu berbuat apa-apa, kecuali mengajar dan mengurus pendidikan.”

Dr. Sunandar merespons, “Ya, itu pilihan hidup hak pribadi Prof. Komar. Live is a matter of choice.”

“Prof. Komar, yang selama ini saya kagumi, memilih jalan aman dan tidak ingin ikut pusing mencermati kondisi negeri, tidak ingin terganggu ketenangan hati, dan merasa tidak mampu berbuat apa-apa adalah pilihan hidup. Padahal kapasitas Prof dipandang punya power untuk mengamalkan ajaran dan anjuran Rasulullah SAW tentang kewajiban setiap muslim, “Amar makruf nahi munkar.”

Man ra’a minkum munkaran falyughayyirhu biyadihi… dst. Prof Komar sangat paham dan fasih menjabarkannya.

Mohon maaf, sikap dan pilihan hidup Prof ini, dikaitkan dengan kondisi perkembangan IPOLEKSOSBUD HANKAM negeri kita belakangan ini, jika dilihat dari sudut pandang agama yang sering disampaikan oleh Ust. Dr. Abdus Somad dalam banyak kesempatan, diibaratkan seperti “Setan Bisu”.

Tampaknya memang banyak Guru Besar, Rektor dan mantan Rektor di era sekarang ini yang seolah tidak ambil peduli dengan kondisi negeri dan perilaku terhadap ulama dan umat Islam.

Berbeda dengan era Orde Baru di mana  FORUM REKTOR dalam pertemuan di Bandung punya andil besar dalam menciptakan terjadinya perubahan.

Asumsi ini, tentu Prof bisa memberikan argumentasi yang saya mungkin belum sampai pada intelektualitas sekaliber Prof.

Atau mungkin Prof juga tidak ingin merespon, tidak ingin terganggu ketenangan, karena sudah ada di convert zone of live.

Afwan Prof, sekadar lontaran pemikiran yunior Dosen UIN Jakarta.

Prof. Komaruddin Hidayat menuturkan demikian, “Saya aktif mengikuti perkembangan negeri ini. Kadang pusing, terlalu banyak tahu yang terjadi di balik pemberitaan.”

“Saya tetap melakukan amar ma’ruf nahi munkar, tapi dengan cara saya. Yaitu langsung berbicara pada figur-figur yang saya anggap sebagai aktor dinamika politik dan pembuat kebijakan.”

“Kadang saya kirim video langsung. Pertimbangan saya, kalau saya ngomong di koran atau TV tak akan sampai ke alamat.”

“Lagi-lagi, ini pilihan metode dakwah yang saya ambil.

I’malu ‘ala makanatikum fa’inni ‘amil… – Berbuatlah sesuai dengan bidangmu, dan saya juga berbuat serupa…

Dr. Sunandar pun merespons, “Masya Allah, ini yang saya maksud, hal yang tidak saya ketahui dan ingin tahu dari sosok senior yang sebagian besar karya buku-bukunya saya koleksi/beli dan saya baca. Terutama buku “Psikologi Kematian” yang sering saya kutip dalam tausiah Pengajian dan khutbah-khutbah saya.

Lega saya membacanya. Semoga segera ada perbaikan dan perubahan di negeri ini.

Bukan untuk kita yang sebentar lagi jatah hidupnya habis, tapi untuk anak cucu kita dan nasib negeri kita ke depan.

Menurut Prof. Komaruddin Hidayat, pandemi itu rasul Tuhan mengajarkan keislaman. Agar kita hanya beriman dan berserah diri pada Tuhan penguasa alam, yang ditangan-Nya jiwa dan hidup kita.

Hanya iman dan amal salih yang akan menyertai dan menolong perjalanan kita, pulang menuju asal kita, bagaikan air selalu berjalan menuju lautan dengan ribuan hambatan dan ujian.

Menyimak dialog tersebut, Dr. Siti Syamsiyatun, M.A. mengomentari pilihan dakwah Prof. Komaruddin demikian.

Mirip jalan yang ditempuh Kiai Haji Ahmad Dahlan dan Pak AR Fachruddin; bicara/menulis langsung kepada orang yang dituju secara sirr (diam-diam, rahasia).

Saya pun memberikan tanggapan sebagai berikut.

Hanya saja, dia perlu memberi tahu pengikut-pengikut setianya, supaya tidak timbul pikiran negatif, su’uzhan, buruk sangka kepadanya.

Inspirasi dari Al-Quran, Wama kanal mu’minuna liyanfiru kaffatan… – Seharusnya jangan semua kaum mukmin berangkat bersama-sama ke medan perang. Dari setiap golongan hendaknya ada sekelompok orang yang tinggal untuk memperdalam ilmu agama dan memberi peringatan kepada golongannya bila sudah kembali, supaya mereka dapat menjaga diri. (QS 9:122);

Pesan Nabi Yaqub kepada anak-anaknya, Qala ya baniyya la tadkhulu min babin wahidin wadkhulu min abwabin mutafarriqah… – Ia berkata, “Wahai anak-anakku, janganlah kamu masuk dari satu pintu gerbang, tapi masukklah dari pintu-pintu gerbang yang berbeda…” (QS 12:67).

Beberapa ayat yang lain adalah sebagai berikut. Waltakun minkum ummatun yad’una ilal khairi wa ya’muruna bil ma’ruf wa yanhauna ‘anil mungkar… – Hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang mengajak kepada kebaikan, menyuruh orang berbuat benar dan melarang perbuatan mungkar. Mereka itulah orang yang beruntung. (QS 3:104);

Kuntum khaira ummatin ukhrijat linnasi ta’muruna bil ma’ruf wa tanhauna ‘anil mungkar… – Kamu adalah umat terbaik dilahirkan untuk segenap manusia, menyuruh orang berbuat benar dan melarang perbuatan mungkar, serta beriman kepada Allah… (QS 3:110);

Ya ayyuhannabiyyu jahidil kuffara wal munafiqin waghluzh ‘alaihim… – Hai Nabi, berjuanglah melawan orang kafir dan munafik; dan bersikap keraslah terhadap mereka… (QS 9:73, 66:9);

Fala tuthi’il kafirina wa jahidhum bihi jihadan kabira – Maka janganlah kau taati orang-orang kafir; berjuanglah sekuat tenaga melawan mereka dengan Al-Quran. QS 25:52);

Infiru khifafan wa tsiqalan wa jahidu bi amwalikum wa anfusikum fi sabilillah… – Berangkatlah kamu dengan perlengkapan ringan atau berat, dan berjuanglah dengan harta dan jiwamu di jalan Allah… (QS 9:41);

Wa a’iddu lahum mastatha’tum min quwwatin wa min ribathil khaili turhibuna bihi ‘aduwwallahi wa ‘aduwwakum… – Siapkanlah untuk menghadapi mereka segala kekuatan dan pasukan berkuda dengan segala kemampuanmu, untuk menimbulkan rasa takut ke dalam hati musuh Allah dan musuh-musuhmu, dan yang lain, yang mungkin tidak kamu ketahui… (QS 8:60);

Wa qatilu fi sabilillah alladzina yuqatilunakum… –   Perangilah di jalan Allah mereka yang memerangi kamu… (QS 2:190);

Umat memerlukan pemimpin-pemimpin dengan karakter berbeda-beda yang saling mengisi dan melengkapi (sinergi, kombinasi), seperti para Khulafa Rasyidin: Abu Bakar, Umar, Usman, dan Ali.

Share This Article

Manhaj al-Fikri

Next Story »

Aksi dan Represi Polisi

One Comment

  1. PakSus
    February 22, 2021

    Uraian yang bagus 👌
    Baru sekarang baca, itu pun karena dikirimi teman.

    Reply

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *