NEWS

0
  • Page Views 17

Aksi dan Represi Polisi

Catatan Muhammad Chirzin

Viral di beberapa grup WA video sejumlah Polisi menangani beberapa pemuda atau remaja di tengah jalan dengan tongkat, tendangan sepatu, dan pukulan tangan.

Salah seorang anggota GWA komentar demikian.
Nikmat apa yang kita peroleh dari memposting video seperti ini di grup WA?

Bukan cari nikmat apa-apa.
Itu Polisi kita. Gak sedih dan perih hatikah kita menyasikannya?
Haruskah kita diam saja tanpa berbuat apa-apa?

Kolega yang lain menanggapi dengan pertanyaan.
Ini kejadian apa, kapan, di mana?

Ya, itu yang perlu kejelasan/dijelaskan (tabayyun). Kalau itu hoax dan apalagi fitnah, moga-moga tidak diulangi share ke grup mana pun, namun kalau itu jelas dan benar adanya, paling sedikit kita tahu bahwa di tengah-tengah pandemi corona dan bencana lain-lainnya masih juga ada “pemicu” dan tindakan kekerasan. Apa dan bagaimana solusinya? Moga-moga ada di antara kita yang bisa mencarikan solusinya. Minimal bisa mengurangi.

Saya mengacu pada video seorang lelaki yang berbicara di lokasi rest area Km 50 yang sudah rata dengan tanah,
dan mengutip komentar di grup lain.
Kalau Polri merasa benar dan tak bersalah, ngapain juga semua jejak dihilangkan sampai Rest Area pun juga ikut dibongkar habis, dan menggusur para pedagangnya dengan dalih direlokasikan?
Adakah tawaran solusi?

Sahabat lain menambahkan. Kalau di grup ini justru tidak masalah berita seperti ini diposting, karena kita mampu menganalisisnya dengan nalar yang jernih.

Setuju.
Insya Allah kita bisa menganalisis dan mensikapinya secara arif bijaksana.

Menarik ini. Menurut saya, coba bantu kita menjawab, kesatuan polisinya wilayah mana, yang dipukuli itu siapa saja? Apa latar belakangnya? Peristiwanya terjadi di mana? Kapan terjadinya? Diposting pertama di mana? Jika ada pertanyaan-pertanyaan terkait lainnya yang Bpk sendiri tahu persis. Dengan begitu yang muncul tidak tiba-tiba rasa benci dengan Bpk-bpk Polisi. Dan bagaimana pandangan Bpk sendiri dengan peristiwa itu? Baru enak kita menganalisisnya tanpa muncul tiba-tiba rasa benci dengan insutusi Polisi yang sudah pasti selalu dibutuhkan oleh negara. Dan saat-saat tertentu kita pribadi sangat membutuhkan perlindungan mereka. Terima kasih.

Nah, ini hikmahnya postingan itu, makin didalami oleh pertanyaan lain yang cukup bobot. Suasana makin terkuak daya kepenasaran untuk melacaki induksinya. Inilah makna diciptakannya berpasang-pasangan.

Saya pun menanggapi komentar kolega-kolega terdahulu demikian.
Tanggapan yang amat sangat akademik sekali.
Pertanyaan balik saya sederhana.

Pertama, apakah itu video tentang peristiwa penganiayaan oleh Polisi atau bukan?

Kedua, apakah itu benar-benar penganiayaan oleh Polisi ataukah Polisi sedang mensimulasikan tindakan represi yang tidak boleh dilakukan?

Ketiga, apabila peristiwa itu sungguh-sungguh terjadi, tetapi kita tidak tahu kesatuan wilayah mana, kapan, yang dipukuli siapa, apa latar belakangnya, di mana, dan siapa yang merekam serta memposting pertama kalinya, apakah video itu kita abaikan saja?

Keempat, berkenaan dengan video berikutnya (Tragedi Tol Km 50), haruskah sebelum memposting itu orang harus tahu lebih dahulu:
(1) siapa laki-laki yang bicara di bekas rest area tol km 50 itu?
(2) siapa yang merobohkan fasilitas rest area itu?
(3) kapan rest area itu dirobohkan?
(4) siapa yang merobohkan rest area itu?
(5) atas perintah siapa rest area itu dirobohkan?
(6) siapa Polisi yang menembak mati 4 (empat) laki-laki dalam tragedi tol km 50 itu?
(7) atas perintah siapa rombongan IB-HRS dibuntuti?
(8) atas perintah siapa 2 (dua) pengawal IB-HRS ditembak mati lebih dahulu oleh oknum Polisi?
(9) mengapa Komnas HAM tidak menyebutkan oknum Polisi yang diakukan menembak mati 4 (empat) orang anggota FPI dalam mobil polisi?
(10) mengapa Komnas HAM tidak menjelaskan tanda-tanda penganiayaan pada para korban oleh Polisi?
(11) mengapa tidak ada ucapan belasungkawa oleh Presiden RI kepada keluarga para korban?
(12) mengapa sampai hari ini belum ada kemajuan pengungkapan tentang tragedi Tol Km 50 yang sangat keji?

Belakangan viral identitas Polisi yang mengaku menembak mati 4 (empat) anggota FPI di dalam mobil polisi dengan kesaksian hal itu sebagai tindakan yang akurat dan terukur untuk membela diri.

Komentar kolega terakhir tentang itu demikian. Yang jelas, orang yang punya hati nurani prihatin melihat video ini, kita tidak melihat ini perkelahian, karena satu pihak tidak melakukan perlawanan, tapi yang kita lihat Polisi yang tidak punya kesabaran memukul dan menerjang orang yang tidak melakukan perlawanan.

Share This Article

Bukan Setan Bisu

Next Story »

AMIR ALIM

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *